Archive for August, 2007

Budaya Tertib di Usia 62

Budaya Tertib di Usia 62

Mumpung masih suasana 17-an, tak ada salahnya kalau kita kembali mengembangkan semangat budaya tertib. Salah satu ciri kemajuan peradaban sebuah bangsa adalah lewat budaya tertib yang tercermin dalam masyarakatnya. Dari budaya ini kita harapkan akan tercipta pula penegakan hukum seperti yang diinginkan.

Tidak kita sadari sebenarnya budaya tersebut perlahan tapi pasti mulai menggerus masyarakat kita. Tengok saja di tempat-tempat umum, ketertiban lalu lintas misalnya, menjadi pemandangan yang langka. Tak cuma kendaraan roda dua, yang beroda empat pun banyak tak mau tertib mengikuti rambu-rambu. Main serobot sudah menjadi lumrah. Akibatnya, lalu lintas pun menjadi kian semrawut dan menimbulkan kemacetan yang luar biasa.

Coba saja lihat kelakuan para pengendara motor di lajur khusus busway. Yang mengendarai roda dua maupun roda empat berbaur menjadi satu melaju di lajur tersebut. Padahal, sudah jelas-jelas terpasang rambu larangan masuk bagi kendaraan selain bus TansJakarta. Di mana budaya tertibnya. Kemacetan tak bisa menjadi alasan untuk melanggar peraturan.
Continue reading

Stanza II untuk Indonesia Raya

Stanza II untuk Indonesia Raya

Penulis : Asro Kamal Rokan

Soeboerlah Tanahnja Soeboerlah Djiwanja
Bangsanja Ra’jatnja Semuwanja
Sadarlah Hatinja Sadarlah Boedinja

Ini adalah bait kedua dari stanza dua lagu Indonesia Raya karya WR Supratman. Stanza pertama adalah lagu Indonesia Raya yang kita kenal selama ini dan tentu tidak dapat digantikan. Stanza kedua dan ketiga konon tersimpan di Belanda dan bahkan di negeri itu VCD dokumenter dengan judul Ons Koninkrijik En De Tweede Wereldoorlog tersebut sejak beberapa tahun lalu banyak diperjual-belikan.

Lirik lagu pada stanza dua Indonesia Raya –terlepas dari kontroversi temuan pakar telematika Roy Suryo– itu sesungguhnya menarik bagi Indonesia kini. Memang, ia tidak seheroik bait yang sama stanza pertama
( Hidoeplah Tanahkoe, Hidoeplah Negrikoe, Bangsakoe, Rakjatkoe, Semuwanja. Bangoenlah Djiwanja, Bangoenlah Badanja). Tetapi stanza dua ini justru menyadarkan kita pada suatu hal penting : hati dan budi; Sadarlah Hatinja Sadarlah Boedinja.

Continue reading