Menunda Lamaran Nikah

Menunda Lamaran Nikah

 

K. Preface

 

Pada suatu hari di bulan Oktober 2007, saya membaca suatu artikel (yang merupakan salah satu artikel favorit saya) berjudul Cewek Di Mata Cowok yang ditulis oleh Ahmad Jibraan di website GaulIslam.

 

Pada saat itu, saya juga melihat komentar yang menarik dari seseorang yang bernama ika #23 :

on October 2nd, 2007 at 11:00 am

wah articlenya bagus……. kadang aku juga bingung sebenarnya jadi seorang wanita harus bagaimana menghadapi seorang laki-laki…. apalagi klo laki-lakinya pendiam dan menjaga imannya padahal kita suka cuman apakah kita harus diam dan menunggu saja, sedangkan waktu akan terus berjalan

 

Komentar ika #23 itu dijawab dengan baik oleh Abu Fikri #24 :

 

on October 2nd, 2007 at 1:40 pm

Dalam islam tidak haram cewek menawarkan dirinya kepada cowok, dalam konteks untuk dijadikan istrinya lho!

Pada masa nabi cukup banyak akhwat yang menawarkan dirinya untuk menjadi istri nabi, tentunya metode dan cara ‘menawarkan’ disini tidak bisa distandarisasi, karena perbedaan budaya dan kondisi masyarkat.

yang jelas dalam ‘menawarkan’ diri harus tidak merendahkan martabat keduanya dan tidak melanggar adab-adab kesopanan.

Jaman dulu kita kenal dengan istilah dijodohkan oleh orang tua, yang biasanya diawali dengan proses penawaran dari salah satu pihak. Jadi proses ‘menawarkan’ diri ini sebenarnya bukanlah hal yang asing dalam masyarakat kita.

 

Lalu saya terpikir untuk menanyakan persoalan yang mirip dengan pertanyaan ika #23, oleh karena itu saya menulis komentar #26 (nomor yang cukup bagus hehehehe) pada komentar tulisan tersebut. Harapan saya adalah pertanyaan itu dapat dijawab oleh penulis tulisan itu (Ahmad Jibraan) atau iga ika atau Abu Fikri atau yang lainnya. Tapi hingga saat ini (24 Februari 2008), pertanyaan komentar #26 saya hanya dijawab oleh ukh nenno # 27 :

 

on October 29th, 2007 at 7:18 pm

Kecantikan cewek menurut ku…..(akhwat), bukan dimata ikhwan.

menurutku kecantikan wanita terletak pada keimanan yang tertancap kokoh atas nama cinta alloh. so, itulah sebenar-nenar cantik.

Cantik karena dengan sepenuh hati, mencintai makhlukNYA dengan cara saderhana tanpa dibuat-buat. Seperti tetesan air yang mampu menembus bongkahan batu.

Utk Akhi Yusuf & Ukh Ika, bukannkah alloh akan menambah rejeki umatnya ketika sudah ada komitmen nikah////

Oke, Alloh akan menjamin wanita baik2 akan mendapat laki2 baik, so jgn gundah para akhwat n ikhwan. Alloh akan mengatur jodoh masing2, entah item , putih, tinggi, pendek, tajir, biasa2 saja…mintalah yg tbaik…amin

Empat bulan setelah saya mengunjungi website GaulIslam, ternyata seorang pengunjung weblog Colors of Johohoho bernama dwi #1 menanyakan balik pada GuestBook tentang komentar #26 saya

pada Cewek Di Mata Cowok di website GaulIslam:

dwi February 19, 2008 at 11:38 am

Ass.
saya tertarik dengan tulisan anda tentang bagaimana seorang laki-laki yang soleh menunggu untuk mengajukan lamaran karena masih ingin memantapkan pekerjaan, sedangkan dia juga suka dengan gadis itu dan gadis yang solehah itu sudah menunggunya.

yang ingin saya tanyakan apakah laki-laki itu dapat dikategorikan soleh? sementara menurut agama pernikahan adalah ibadah? saya tunggu jawaban anda

 

 

Pertanyaan dwi itu cukup singkat, tetapi pertanyaan itu memerlukan jawaban yang tidak sesingkat pertanyaan tersebut (karena harus ada alasan kenapa jawaban itu bisa muncul). Oleh karena itu saya putuskan untuk menjawab pertanyaan dwi itu melalui suatu tulisan tersendiri di weblog Colors of Johohoho ini.

 

L. Komentar #26

 

Berikut ini adalah komentar #26 saya pada Cewek Di Mata Cowok di website GaulIslam.

on October 22nd, 2007 at 4:02 pm

Artikel yang bagus dan bermanfaat. Kebanyakan cowok di dunia ini memang lebih mengutamakan fisik cewek daripada kepribadiannya/agamanya/etc, tetapi jangan mengganggap semua cowok seperti itu, karena masih ada (walau tergolong sedikit) cowok yang lebih mengutamakan hal lain (agama, kepribadian, dsb) dibandingkan fisik yang ada pada diri seseorang cewek.

Agama, kepribadian/sifat, kedewasaan yang baik yang dimiliki seseorang akan lebih berguna dan bermanfaat dibandingkan cakepnya wajah seseorang. Orang yang hanya melihat seseorang dari luar/lahirnya saja (cantik/ganteng, kaya, nasab), hasil akhirnya adalah kekecewaan (bahkan belum mencapai akhir juga sudah kecewa :D).

@ika dan abu fikri (pertanyaan tambahan yang muncul setelah ada pertanyaan dari ika) :
Bagaimana kalau seorang cewek suka dengan cowok yang pendiam dan berusaha menjaga imannya, kemudian cewek itu bersikap diam/menunggu. Di satu sisi cowok pendiam itu juga sebenarnya suka dengan cewek tersebut, hanya saja ia belum mau bergerak/melamar karena ada pertimbangan lain (seperti ia berpikir tidak yakin apakah cewek itu mau menikah tanpa pacaran, atau cowok itu sedang fokus memantapkan pekerjaannya dahulu sebelum melamarnya, atau alasan lainnya). Bagaimana solusi terbaik jika ada kasus seperti ini?

 

Berikut ini beberapa sedikit perbedaan antara komentar saya dengan pertanyaan dwi :

Komentar/Pertanyaan Yusuf KS

Komentar/Pertanyaan Dwi

Cowok yang pendiam dan berusaha menjaga imannya

Laki-laki yang soleh

belum mau bergerak/melamar karena ada pertimbangan lain (seperti ia berpikir tidak yakin apakah cewek itu mau menikah tanpa pacaran, atau cowok itu sedang fokus memantapkan pekerjaannya dahulu sebelum melamarnya, atau alasan lainnya).

menunggu untuk mengajukan lamaran karena masih ingin memantapkan pekerjaan

 

 

Walaupun ada sedikit perbedaan, tapi pertanyaan dwi masih melingkupi komentar #26 saya. Hanya saja pertanyaan dwi bersifat lebih spesifik, dan komentar #26 saya itu bersifat umum. Sebagai informasi tambahan, saya sudah mempunyai pendapat/jawaban saya pribadi terhadap pertanyaan/komentar #26 itu, walau begitu saya ingin mengetahui pendapat orang lain dan komentar #26 itu saya harap dapat dijawab oleh penulis tulisan itu (Ahmad Jibraan) atau iga ika atau Abu Fikri atau yang lainnya (tetapi malah saya yang ditanya balik oleh pertanyaan saya sendiri itu ^^).

 

Karena saat ini saya sudah tanya, maka saya akan berusaha menjawab pertanyaan dwi tersebut, Insya Allah.

 

M. Shalih

 

Sebelum menjawab pertanyaan dwi, akan lebih baik didefinisikan terlebih dahulu dari kata shalih dan shalihah. Secara bahasa shalaha (صلح) artinya adalah baik, bagus, damai, cocok. Sedangkan kata shalih (صالح) adalah isim fa’il dari shalaha yang berarti orang yang baik/bagus/damai/cocok. Shalih untuk laki-laki, sedangkan shalihah untuk perempuan.

 

Sedangkan secara istilah syari’at Islam, pengertian yang sederhana dari shalih adalah orang yang baik agamanya. Dan faktor baik agamanya seseorang merupakan faktor kunci untuk menikah. “Wanita dinikahi karena empat hal : Karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih karena agamanya (baik ke-Islamannya), sebab kalau tidak demikian, niscaya kamu akan celaka <Bukhari dan Muslim>.

 

Siapakah yang disebut orang shalih itu? Sebenarnya yang paling mengetahui shalih atau tidaknya seseorang hanyalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Penilaian manusia tentang shalih atau tidaknya seseorang hanya bisa dinilai secara lahir saja (dan penilaian dari orang bukanlah yang dicari, tetapi kita hanya mencari keridhaanNya), walau begitu setiap pribadi muslim dan muslimah harus berusaha sebaik-baiknya untuk menjadi seorang muslim/muslimah yang shalih/shalihah.

 

Setiap muslim yang ingin menjadi muslim shalih tidak hanya wajib menjaga iman (aqidah, tauhid, keimanan), melaksanakan semua perintah wajib-Nya (shalat, zakat, shaum, dan sebagainya) dan meninggalkan dosa besar saja (syirik, zina, khamr, judi, dsb), tetapi mereka juga berusaha untuk melaksanakan perintah Allah dan Rasulullah yang lainnya sebaik mungkin (ibadah sunnah), mempunyai akhlaq yang mulia, menuntut ilmu Islam, bahkan berusaha menjauhi dosa kecil. Sehingga, proses menjadi seorang muslim shalih akan terus berlangsung hingga orang tersebut mati, dan tingkat keshalihan seorang muslim dengan muslim lainnya berbeda-beda disesuaikan dengan amal setiap muslim tersebut (dan itupun pada akhirnya hanya Allah yang menilai).

 

N. Menunda Lamaran Nikah karena Pekerjaan

 

Pada bagian ini saya akan mencoba menjawab pertanyaan dwi :

saya tertarik dengan tulisan anda tentang bagaimana seorang laki-laki yang soleh menunggu untuk mengajukan lamaran karena masih ingin memantapkan pekerjaan, sedangkan dia juga suka dengan gadis itu dan gadis yang solehah itu sudah menunggunya

yang ingin saya tanyakan apakah laki-laki itu dapat dikategorikan soleh? sementara menurut agama pernikahan adalah ibadah? saya tunggu jawaban anda

 

 

 

 

Maka jawaban saya adalah : wallahu a’lam (Allah yang lebih mengetahui). Seorang muslim dan muslimah yang menikah itu memang bernilai ibadah dan bisa menambah tingkat keshalihan seseorang (jika hubungan pernikahan itu dijalankan dengan baik). Tetapi tidak berarti atau belum tentu orang yang belum/tidak menikah itu adalah orang yang tidak shalih atau mengurangi tingkat keshalihan seseorang, karena seorang muslim/muslimah dibolehkan menunda atau tidak menikah dengan alasan yang dibolehkan syari’at Islam. Begitu juga sebaliknya, orang yang sudah menikah belum tentu pasti merupakan seorang muslim/muslimah yang shalih/shalihah, karena mereka masih harus membina suatu hubungan keluarga baru dengan baik dan islami untuk terus meningkatkan amal shalih mereka.

 

Orang yang belum/tidak menikah itu tetap bisa meningkatkan keshalihannya dengan berbuat amal yang shalih, tapi orang yang belum/tidak menikah itu tidak dapat meningkat keshalihan dari membimbing/mengurus suami/istri/anak dan hubungan suami istri yang hanya didapatkan bagi orang yang sudah menikah.

 

Tentang memantapkan pekerjaan tentu saja bukan harus menunggu sampai punya rumah sendiri, mobil sendiri, dan hal-hal yang belum terjangkau lainnya. Kalau memantapkan pekerjaan harus seperti itu, wah..bisa-bisa banyak bujang lapuk yang tidak atau sangat telat menikah (karena tidak mantap-mantap pekerjaannya menurut mereka).

 

Menurutku, jika sudah punya pekerjaan yang bisa cukup menghidupi dua orang (suami istri), maka hal itu sudah bisa dibilang sudah memiliki pekerjaan yang cukup mantap. Hal-hal yang masih belum terjangkau itu masih bisa menyusul (rumah bisa ngontrak dulu, kendaraan bisa pakai motor, dan sebagainya), masih bisa menabung, dan masih ada harapan untuk menambah sumber penghasilan di masa depan.

 

Bagaimana menurut pendapat Anda?

Atau, jika ada yang mau menjawab komentar #26 tersebut, jangan ragu untuk mengeluarkan pendapat Anda🙂

 

 

Yusuf KS (Hayya alal falaah).

 

weblog : https://myks.wordpress.com

4 Responses to “Menunda Lamaran Nikah”


  1. 1 dian March 5, 2008 at 5:32 pm

    seorang laki2 yang menunda lamaran..seperti yg antum dah sebutkan bahwa sholehnya seseorang hanya Allah yang tahu,saya sepakatra!!! jadi saya tidak mau mengomentari laki2 itu sholeh atau tidak..

    saya cuma mw memberi pendapat tentang laki2 yg menunda lamaran..seorang laki2 yg menunda lamaran ke seorang perempuan yg dia sukai, namun dia tidak menyegerakan tuk ngelamar…saya berfikir bahwa sebenarnya orang tersebut masih belum yakin dengan kemampuan yang dia miliki..kemampuan di sini saya artikan baik dari segi finansial maupun dari segi yg lainnya…klo’ alasan yang diajukan tuk menunda lamaran karena alasan pekerjaan, sebenarnya itu hanyalah salah satu upaya untuk “nge-les”…tapi sebenarnya masih ada alasan yang lebih berpengaruh dibandingkan dengan alasan pekerjaan kenapa sehingga si-laki2 ini menunda untuk ngelamar…salah satunya yaitu adanya ketidak yakin-an dalam dirinya…dia masih belum yakin bahwa dia bisa membina suatru rumah tangga, mungkin karena sebagian juga pengaruh dari lingkungan..!!!i think like that!

    so…ini bisa menjadi suatu pelajaran!jangan sampai karena ketidak-PEDE-annya seorang laki2 melamar perempuan yang dia suka, jadi dia menunda2…pasti akan sangat kecewa kalo’ misalnya ada laki2 lain yang mendahuluinya melamar itu perempuan!!PASTI KECEWA..dan ujung2nya itu Sakit Hati…

  2. 2 Yusuf KS March 16, 2008 at 11:12 pm

    saya berfikir bahwa sebenarnya orang tersebut masih belum yakin dengan kemampuan yang dia miliki..kemampuan di sini saya artikan baik dari segi finansial maupun dari segi yg lainnya…

    Salah satu syarat untuk menikah adalah mempunyai kemampuan yang mencakup kemampuan fisik dan psikologis. Ada sebagian orang yang sudah mempunyai kemampuan dari sisi fisik dan psikologis, ada sebagian orang yang sudah mempunyai kemampuan dari sisi psikologis tapi belum mempunyai kemampuan fisik untuk dapat menikah (memberi mahar, nafkah/pekerjaan, tempat tinggal), ada juga sebagian orang yang sudah mempunyai kemampuan dari sisi fisik tapi belum mempunyai kemampuan psikologis untuk menikah, dan ada juga sebagian orang yang benar-benar belum mempunyai kemampuan untuk menikah.

    klo’ alasan yang diajukan tuk menunda lamaran karena alasan pekerjaan, sebenarnya itu hanyalah salah satu upaya untuk “nge-les” tapi sebenarnya masih ada alasan yang lebih berpengaruh dibandingkan dengan alasan pekerjaan kenapa sehingga si-laki2 ini menunda untuk ngelamar…salah satunya yaitu adanya ketidak yakin-an dalam dirinya…dia masih belum yakin bahwa dia bisa membina suatru rumah tangga, mungkin karena sebagian juga pengaruh dari lingkungan..!!!i think like that!

    Pernyataan tersebut tidak sepenuhnya benar, karena memang ada sebagian orang yang sebenarnya sudah memiliki kemampuan yang cukup dari pekerjaannya (setidaknya bisa menghidupi dua orang, suami istri) tapi ia merasa belum yakin untuk menikah atau mempunyai alasan-alasan lain, entah itu alasan yang syar’i, alasan psikologis (seperti yang ukhti dian sebutkan itu), atau alasan “ngeles”, atau alasan lainnya.

    Dan ada juga sebagian orang yang memang dari sisi pekerjaannya belum layak untuk menikah, misalnya pekerjaannya baru bisa menghidupi satu orang, atau bahkan pengangguran. Para akhwat tentu tidak mau kan jika ikhwan yang mau menikahinya masih pengangguran atau ikhwan sudah punya pekerjaan tapi belum bisa untuk menafkahi akhwat?

    Solusi ketidakpedean untuk melamar/menikah adalah segera mengubah ketidakpedean menjadi percaya diri. Solusi belum mempunyai pekerjaan yang mantap adalah dengan segera memantapkan pekerjaannya (setidaknya bisa menghidupi dua orang, suami istri), sehingga ia bisa segera melamar/menikah. Yang agak sulit adalah proses untuk menuju perubahan tersebut, setiap orang mempunyai cara dan hambatan berbeda-beda untuk dapat mencapai hal tersebut.

  3. 3 Nola August 5, 2008 at 1:40 pm

    pekerjaan dapat dicari dengan khiar dan kerja keras, asal kita rajin, dapat merubah dunia…^_^

  4. 4 tohar September 1, 2008 at 2:59 pm

    saya kira baik bekerja maupun menikah keduanya adalah ibadah, jadi tidak perlu saling dibenturkan, malah seharusnya keduanya bisa berjalan selaras bersama.

    Kesiapan menikah memang cukup sulit menilainya, banyak orang memberikan definisi kapan siap-nya, dan tentunya tiap orang memiliki perbedaan mengenai tingkat kesiapan.

    Kalo yang menjadi acuan utama adalah penghidupan, manusia sebenernya tidak memiliki kuasa atas hal tsb, karena sepenuhnya merupakan hak Alloh, jadi kewajiban kita adalah berusaha semaksimal mungkin untuk memperoleh penghidupan, tentunya dengan cara yang halal.

    Kita tidak bisa selalu menunggu hingga usaha kita maksimal dulu baru menikah, tapi yang sewajarnya saja, bekerja tetap jalan terus dan menikah juga, justru dengan memiliki partner, kita bisa bekerja dengan lebih optimal, karena semula anda sendiri, tapi setelah menikah anda merupakan satu team.

    Ingat Hidup ini tidak hanya bekerja dan menikah saja, tapi masih banyak juga hal lainnya, seperti menyiapkan generasi penerus, berdakwah dll, jadi sebaiknya jangan terlalu lama kita dalam ketidak pastian dan akhirnya kita malah tidak melakukan apa2.

    Manusia adalah tidak sempurna, karena itulah kita berdoa, supaya Alloh menyempurnakan-nya. Semoga bermanfaat.

    Tohar


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Choose Category :

Top Clicks

  • None

Blog Stats

  • 80,790 hits

Attention :

I would like you to ask permission if you want to “copy, paste and share” my work on this blog. However if you do not then please just give the credit/link.

Website Safety Reputation:
Rating for myks.wordpress.com

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 6 other followers

February 2008
S M T W T F S
« Jan   May »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
242526272829  

%d bloggers like this: