MUI tidak mengharamkan golput!! Benarkah?

Pada akhir Januari 2009 lalu, masyarakat kita digemparkan oleh berita (dalam berbagai bentuknya) yang menyatakan bahwa MUI memfatwakan golput adalah haram. Informasi tersebut juga terus disebarkan di banyak website termasuk weblog. Saya sendiri juga termasuk orang yang ikut menyebarkan informasi tersebut melalui weblog Colors of Johohoho ini.

Beberapa hari lalu (pertengahan Maret 2009 / Rabi’ul Awwal 1430 H) tanpa terduga, qadarullah,saya membaca artikel di weblog Abu Abdirrahman Ath-Thalibi yang menyatakan bahwa sebenarnya MUI tidak pernah mengeluarkan fatwa golput adalah haram.

Setelah membaca artikel tersebut, saya kembali berpikir dan mencari informasi, benarkah MUI tidak mengharamkan golput? Benarkah MUI tidak mengeluarkan fatwa golput adalah haram? Oleh karena itu hal tersebut perlu dibahas kembali pada tulisan di Colors of Johohoho ini.

 

Fatwa hukum golput yang ditetapkan MUI
Pada akhir Januari 2009 Forum Ijtima Ulama Komisi Fatwa III se-Indonesia yang digelar di Padangpanjang, Sumatera Barat berhasil menetapkan 24 fatwa baru. Awalnya saya ingin mengutip fatwa hasil ijtima MUI 2009 itu secara keseluruhan, tapi karena pada saat itu (bahkan sampai sekarang) saya tidak mendapatkan media yang menampilkan semua fatwa hasil ijtima MUI 2009, maka saya mengutip dari media yang menampilkan beberapa poin fatwa hasil ijtima MUI 2009. Oleh karena itu saya memilih koran Republika 27 Januari 2009 sebagai dasar acuan utama untuk menulis tulisan Hasil Ijtima Majlis Ulama Indonesia 2009.

Tentang golput, koran Republika edisi tersebut menyebutkan :

Hukum tak Menggunakan Hak Pilih dalam Pemilu

Pemilu dalam pandangan Islam adalah upaya untuk memilih pemimpin atau wakil yang memenuhi syarat-syarat ideal bagi terwujudnya cita-cita bersama sesuai dengan aspirasi umat dan kepentingan bangsa. Memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat-syarat sebagaimana disebutkan dalam butir 1 (satu) atau tidak memilih sama sekali padahal ada calon yang memenuhi syarat hukumnya adalah haram.

Jika membaca kalimat seperti itu maka banyak dari kita yang mungkin tidak akan memahami maksud dari kalimat tersebut, termasuk saya. “..Syarat-syarat sebagaimana disebutkan dalam butir 1..” Apa yang disebutkan dalam butir 1? Oleh karena itu saya menggunakan kalimat sendiri yaitu “Memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat-syarat atau tidak memilih sama sekali padahal ada calon yang memenuhi syarat, hukumnya adalah haram!” Plus ditambah dari kalimat kutipan dari detik.com “Golput haram hukumnya bila masih ada pemimpin yang layak pilih. Bila tidak ada pemimpin yang layak dipilih, maka tetap harus memilih calon yang baik dari yang terburuk.” Lihat kalimat tersebut pada website detik itu di paragraf terakhir. Sehingga kalimat yang ada pada tulisanku tentang fatwa golput yang dikeluarkan MUI adalah :

Hukum tidak menggunakan hak pilih dalam Pemilu

Memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat-syarat atau tidak memilih sama sekali padahal ada calon yang memenuhi syarat, hukumnya adalah haram! Dalam kalimat lain (detik.com) : Golput haram hukumnya bila masih ada pemimpin yang layak pilih. Bila tidak ada pemimpin yang layak dipilih, maka tetap harus memilih calon yang baik dari yang terburuk.

Jika dari kalimat “Memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat-syarat atau tidak memilih sama sekali padahal ada calon yang memenuhi syarat, hukumnya adalah haram!” maka dapat disimpulkan bahwa :

  1. Hukum orang yang memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat adalah haram menurut fatwa MUI
  2. Hukum orang yang tidak memilih pemimpin (alias golput) adalah haram menurut fatwa MUI JIKA ada calon pemimpin yang memenuhi syarat.
  3. Hukum orang yang tidak memilih pemimpin (alias golput) adalah wajib menurut fatwa MUI JIKA tidak ada calon pemimpin yang memenuhi syarat. (Kebalikan dari nomor 2).

Tapi jika dari kalimat “Golput haram hukumnya bila masih ada pemimpin yang layak pilih. Bila tidak ada pemimpin yang layak dipilih, maka tetap harus memilih calon yang baik dari yang terburuk.” maka dapat disimpulkan bahwa : Golput adalah haram secara mutlak menurut fatwa MUI.

 

MUI tidak mengharamkan golput (?)

Pada weblog Abu Abdirrahman Ath-Thalibi AKA Abu Muhammad Waskito (AMW) terdapat suatu tulisan yang menyatakan bahwa sebenarnya MUI tidak pernah mengeluarkan fatwa golput adalah haram. AMW menyebutkan bahwa seorang anggota dewan fatwa MUI memang benar-benar mengatakan “golput haram mutlak” dalam wawancara dengan TVOne (walau menurut AMW itu hanyalah ungkapan, padahal dalam isi fatwa MUI sendiri tidak seperti itu). Dan AMW juga menyebutkan bahwa KH. Ma’ruf Amin (MUI) mengatakan bahwa MUI tidak mengatakan golput haram, tetapi haram tidak memakai hak pilih, kalau memang ada kandidat pemimpin yang memenuhi kriteria Islam.

AMW juga menyebutkan tulisan Muhammad Al-Khaththath yang ada pada website suara-Islam yang menyatakan bahwa MUI tidak pernah mengeluarkan fatwa golput adalah haram.

Berikut ini beberapa bagian terpenting dari tulisan Muhammad Al-Khaththath :

Pertama, poin empat dari fatwa tersebut berbunyi: Memilih pemimpin yang beriman dan bertakwa, jujur (siddiq), terpercaya (amanah), aktif dan aspiratif (tabligh), mempunyai kemampuan (fathonah), dan memperjuangan kepentingan umat Islam, hukumnya adalah wajib.

Poin ini justru tidak terekspos dengan baik di media massa sehingga tidak menjadi opini umum yang ditangkap oleh publik. Padahal poin inilah yang justru diperlukan umat sebagai petunjuk untuk memilih calon presiden (calon Imam/kepala negara) dan calon wakil rakyat.

Artinya, menurut fatwa MUI tersebut, umat Islam dalam pemilu nanti wajib memilih calon Imam dan wakil rakyat yang memiliki karakteristik: beriman dan bertaqwa, jujur, terpercaya, aktif dan aspiratif, mempunyai kemampuan, dan memperjuangkan kepentingan umat Islam.

Kedua, butir lima dari fatwa MUI tersebut adalah: Memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat-syarat sebagaimana disebutkan dalam butir 4 (empat) atau tidak memilih sama sekali padahal ada calon yang memenuhi syarat, hukumnya adalah haram.

Butir ini juga tidak terkomunikasi dengan baik melalui media massa. Seolah-olah di media massa diopinikan bahwa tidak memilih alias golput secara mutlak adalah haram. Padahal yang diharamkan dalam butir ini adalah bila tidak memilih sama sekali alias golput padahal ada calon yang memenuhi syarat-syarat nomor empat yang sudah diterangkan di atas. Lebih dari itu, justru yang diharamkan bagi setiap muslim adalah memilih calon Imam dan wakil rakyat yang tidak memenuhi kriteria dalam poin empat di atas.

Dengan demikian tegaslah bahwa Fatwa MUI tentang memilih dalam Pemilu itu adalah : (1) WAJIB BAGI SETIAP MUSLIM MEMILIH CAPRES DAN CALEG YANG: beriman dan bertaqwa, jujur, terpercaya, aktif dan aspiratif, mempunyai kemampuan, dan memperjuangkan kepentingan umat Islam. (2) HARAM BAGI SETIAP MUSLIM MEMILIH CAPRES DAN CALEG YANG: tidak beriman, tidak bertakwa, tidak jujur (siddiq), tidak terpercaya (amanah), tidak aktif dan tidak aspiratif (tabligh), tidak mempunyai kemampuan (fathonah), dan tidak memperjuangan kepentingan umat Islam.

 

Benarkah MUI tidak mengharamkan golput secara mutlak?

Fatwa golput adalah haram (secara mutlak) adalah suatu anggapan umum tentang fatwa golput MUI. Jika MUI tidak mengharamkan golput secara mutlak, maka ada beberapa hal yang harus dipertanyakan :

  1. Beberapa ulama MUI yang memberikan informasi tentang fatwa golput ternyata memang menyatakan golput adalah haram secara mutlak, minimal mereka (MUI) memberi kesan terhadap hal tersebut. Satu contoh bukti dari beberapa buktinya adalah kalimat yang ditulis oleh wartawan detik di tulisan Golput Umumnya Kelas Menengah-Atas, Fatwa Haram Tak Pengaruh, contoh lainnya bisa ditemukan di beberapa media lain.
  2. Pada tulisan MUI Tak Pernah Keluarkan Fatwa Haram Golput terdapat pernyataan yang sangat menarik :

    Ahmad Darodji menjelaskan, MUI tidak pernah mengeluarkan fatwa golput haram. Selaku wadah para ulama, pandangan MUI soal haram ditujukan bagi orang yang memiliki hak pilih tetapi tidak menggunakannya.

    Kalimat tersebut sungguh kontradiksi. Orang yang memiliki hak pilih tetapi tidak menggunakannya sama aja artinya dengan golput. Jadi artinya MUI mengeluarkan fatwa golput haram.
    Lalu perhatikan pada kalimat selanjutnya :

    Esensi pengertian golput masih beda tafsir di kalangan masyarakat. ”Fatwa itu bukan untuk golput. Bahwa umat Islam wajib hukumnya mentaati pemerintah dan pemimpin. Pemilu itukan keputusan pemerintah dan untuk meneruskan proses pemerintahan. Kalau umat Islam tidak melaksanakannya, ulama berpendapat itu haram. Rambu-rambu itu dasarnya jelas yakni Alquraan dan hadits,” tandas dia.

    Kalimat tersebut muter-muter beberapa keliling maksudnya sama aja😀. Lagipula umat Islam wajib hukumnya mentaati pemerintah dan pemimpin jika tidak bertentangan dengan syari’at Islam. Jika bertentangan dengan syari’at Islam, maka tidak ada istilah “kami dengar dan kami taat”.

    Inti tulisan tersebut menyatakan bahwa MUI memang telah memfatwakan golput adalah haram.

  3. Di website MUI sendiri terdapat suatu tulisan berita yang bersumber dari Suara Merdeka yang pada awal tulisannya tertulis :

    Montreal, CyberNews. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Amerika dan Kanada mendukungpenuh keputusan MUI mengeluarkan fatwa haram tentang Golput. Fatwa ini dinilaisebagai keputusan yang tepat dan cerdas dari MUI.

    Jika MUI tidak mengharamkan golput secara mutlak, kenapa berita tersebut ada di website MUI?

  4. Kenapa sampai saat ini (bahkan sampai tanggal 9 April 2009) MUI tidak menampilkan fatwa hasil ijtima MUI 2009 itu secara keseluruhan di beberapa media –minimal di media MUI sendiri, misalnya buletin atau majalah (jika MUI memiliki media tersebut), atau pada website MUI– ?

Jika MUI memang benar tidak menetapkan fatwa golput adalah haram secara mutlak, maka mereka perlu menyampaikan fatwa hasil ijtima MUI 2009 itu secara keseluruhan di beberapa media –minimal di media MUI sendiri, misalnya buletin atau majalah (jika MUI memiliki media tersebut), atau pada website MUI–. Jika MUI tidak melakukan hal tersebut, maka jangan salahkan masyarakat yang beranggapan bahwa MUI telah memfatwakan golput adalah haram secara mutlak. Jika ingin menyalahkan, yang pertama harus disalahkan adalah MUI sendiri yang kurang mensosialisikan fatwa-fatwa mereka dengan baik dan benar di beberapa media –minimal di media mereka sendiri–. Dan salahkan pula media yang sudah mengetahui secara detil tentang fatwa-fatwa MUI tetapi mereka menyampaikan hal tersebut dengan cara yang salah secara sengaja, atau bahkan tidak menyampaikan hal tersebut secara sengaja.

 

Yusuf KS (I won’t participate in fuumi, lee and chuu loon & something like that… believe it!).

Info : Lihat pula artikel terbaruku MUI tidak mengharamkan golput secara mutlak.

4 Responses to “MUI tidak mengharamkan golput!! Benarkah?”


  1. 1 abisyakir March 26, 2009 at 9:08 am

    @ Yusuf KS.

    Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakaatuh.

    Sebelumnya, syuran jazakallah Antum sudah datang ke abisyakir.

    Tentang tulisan yang Antum sampaikan, ada beberapa komentar dari saya:

    – Memang Akhi, terus-terang ana bingung juga dengan fatwa MUI itu. Fatwanya tampak ambigu, tidak jelas maunya apa? Dalam diskusi di Topik Malam ANTV, KH. Ma’ruf Amin memang menolak fatwa itu disebut fatwa haramnya golput. Tetapi title dari fatwa itu sendiri memang tentang GOLPUT.

    – Kalau melihat isi fatwa MUI, memang disana tidak ada kalimat “golput haram”. Yang ada ialah: tidak menggunakan hak pilih, kalau ada kandidat yang soleh, haram hukumnya.Maka itu Al Khatthath bisa menulis pandangan yang setidaknya menolong MUI dari berbagai kritik seputar fatwa golput haram.

    – Tetapi dalam fatwa itu sendiri juga ada kalimat kurang-lebih, “Kalau tidak ada sama sekali kandidat pemimpin yang memenuhi kriteria seperti dalam butir 1, haram memilih pemimpin itu.” Nah, kalimatn seperti ini kan justru mendukung golput.

    – Kalau bicara soal institusi MUI, saya coba tidak menganggap MUI mengeluarkan fatwa golput haram. Tetapi dalam konteks pengaruh opini yang telah tersebar di masyarakat, saya menyebut MUI sengaja mengeluarkan fatwa golput haram. Jadi, ada perbedaan perlakuan, sebab antara substansi dan opini yang beredar memang sudah sangat simpang siur.

    – Dari sini tampak bahwa MUI telah melakukan sesuatu yang akhirnya disesalinya sendiri. Mungkin itu bisa menjadi bukti bahwa MUI “under pressure” saat mengeluarkan fatwa itu. Wallahu a’lam bisshawaab.

    Terimakasih atas analisis dalamnya. Jazakallah khair.

    AMW.

  2. 2 Yusuf KS March 27, 2009 at 7:42 am

    @ AMW

    Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakaatuh.

    Wa ‘alaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh.

    Syukran katsiran Antum sudah datang ke weblog ini, membaca artikel saya, dan memberi komentar terhadap artikel tersebut. Insya Allah komentar Antum itu dapat lebih memperjelas tentang fatwa golput MUI, juga lebih memperjelas penjelasan artikel saya tentang fatwa golput MUI di weblog Colors of Johohoho ini dan juga artikel antum tentang fatwa golput MUI di weblog Langit Biru Articles.

    Saya masih menanti ditampilkannya seluruh fatwa hasil ijtima MUI 2009 pada website MUI, supaya seluruh masyarakat Indonesia dapat mengetahui hal tersebut langsung melalui media MUI sendiri.

    Terimakasih atas analisis dalamnya. Jazakallah khair.

    Wa iyyaaka.

    YKS.

  3. 3 dir88gun March 28, 2009 at 9:25 am

    assalamu alaikum wr. wb.

    Permisi, saya mau numpang posting (^_^)

    http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/03/menggugat-demokrasi-daftar-isi/
    http://hizbut-tahrir.or.id/2009/03/24/hukum-pemilu-legislatif-dan-presiden/

    semoga link di atas bisa menjadi salah satu rujukan…

    Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.
    Mohon maaf kalau ada perkataan yang kurang berkenan. (-_-)

    wassalamu alaikum wr. wb.

  4. 4 ayasofa April 9, 2009 at 8:58 am

    Ismail Yusanto, Jubir HTI , di sebuah acara diskusi yang saya ikuti cerita begini:
    Dia nanya ke KH. Ma’ruf Amin, “Kyai, kenapa tidak begini saja fatwanya : haram memilih partai sekuler dan haram memilih caleg dari partai sekuler?” kyai Ma’ruf jawab begini, “Ya memang harusnya begitu. Cuma kan di MUI itu ada banyak golongan, jadi bisa segini saja sudah kemajuan. Kalo mau keluarin fatwa begitu jangan lewat MUI kita cari aja forum lain.”
    Pak Ismail sendiri bilang kalo fatwa itu memang muter-muter sulit difahami. Padahal maksudnya milih bisa haram golput juga bisa haram, cuma sayang yang diekspos itu “MUI haramkan golput”.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Choose Category :

Top Clicks

  • None

Blog Stats

  • 80,790 hits

Attention :

I would like you to ask permission if you want to “copy, paste and share” my work on this blog. However if you do not then please just give the credit/link.

Website Safety Reputation:
Rating for myks.wordpress.com

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 6 other followers

March 2009
S M T W T F S
« Feb   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

%d bloggers like this: